Senin, 25 Juni 2012

Ikhwan BAMBU? kayak apa sih?



Ikhwan seperti ini umumnya tahan banting, siap menghadapi segala perubahan cuaca. Ia layaknya bilah bambu. Kokoh, tegak terpancang meskipun angin menggoyang. Seperti bambu yang memeiliki sistem perakaran serabut dengan akar rimpang, ikhwan ini berusaha tegar. Ia berusaha tegak meskipun petir menggelegar. Semakin tinggi posisinya, ia tetap merunduk.
Adakalanya –seperti bambu- ia diangap kampungan, kuno, kurang trendy. Yup. Itu sebuah pilihan. Ia lebih nyaman tampil bersahaja. Lebih suka di belakang layar daripada tampil ke depan panggung. Lebih senang menulis skenario daripada menjadi aktor pemeran utama. Jauh dari hingar bingar dan gegap gempita selebritas. Tapi bila ia pergi, banyak orang kehilangan.
Bambu hidup berumpun. Bentuknya silindris, berbuku-buku, berongga namun kekaR, berdinding keras. Bambu tumbuh bertahap, mulai dari rebung, batang muda, dan sudah dewasa pada umur 4-5 tahun. Bambu siap tebang, dipakai untuk berbagai keperluan, mulai dari peralatan rumah, perabotan dapur, kerajinan tangan, bahan bangunan, serta peralatan lain baik  yang sederhana sampai dengan industri bambu lapis, laminasi bambu, juga industri kertas modern. Seorang ikhwan idealnya juga bisa seperti itu. Ia berkumpul dengan orang-orang shaleh untuk menimba ilmu, terus memperbaiki diri, bertahap tumbuh, dewasa, menyebar ke setiap penjuru bumi. Seperti bambu yang mampu bertunas di setiap buku-bukunya, si ikhwan juga harus bisa memberi manfaat, cahaya, dari setiap perilaku kesehariannya.

 Ikhwan bambu diharapkan menumbuhkan bambu-bambu muda. Bukan tiruan, tapi sosok yang mempunyai keshalehan dan kobar semangat yang tak kalah sama. Ia lentur, mudah membaur, tanpa harus lebur. Dunia membutuhkan sosok-sosok bambu yang bekerja seimbang untuk dunia dan surga.

Tak perlu program muluk-muluk untuk mengubah muram wajah dunia. Cukuplah dengan mengubah diri sendiri dahulu, kemudian orang terdekat, keluarga, sehingga terbentuk keluarga sakinah. Kumpulan dari keluarga sakinah akan membentuk masyarakat madani. Masyarakat adalah komponen negara. Dan negara adalah bagian dari dunia. Mudah sekali, bukan? 

Secara teori memang, pelaksanaannya, luar biasa susah. Dan kita membutuhkan lebih banyak sosok-sosok bambu. Kamu termasuk ikhwan bambu? itu pilihan,, :D
DI share dari sebuah blog juga,, bukan asli tulisan saya,, :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih banyak ya komennya,, :) mudah2an komennya yg membangun, dan bisa bikin saya dan tulisannya jd lebih baik,,

Hikmah Tak Ada Air

Bismillah Hari ini mulai sore tadi pompa air di rumah ga nyala. Jadinya gak bisa mandi sampai jam 10 baru nyala lagi. Gak betah banget, ge...